Pages

Tuesday, December 10, 2013

Andai Aku Jalan Kaki,Masihkah Engkau Selalu Ada Untukku?

Andai Aku Jalan Kaki,Masihkah Engkau Selalu Ada Untukku?

Kini, aku punya segalanya. Segala yang diimpikan rata-rata manusia di abad ini. Rumah mewah, mobil premium, bahkan bukan hanya satu. Tabungan pun membludak, hingga sering terbit guyonan di antara teman-teman, “Rekeningmu tu dah penuh! Kalau mau setor lewat ATM lagi, pasti muncul pesan begini, ‘Rekening yang Anda tuju sudah penuh, cobalah buka rekening baru lagi….” Aku bisa beli apa saja yang kuinginkan saat ini juga. Sampai-sampai, sering muncul gojekan lain, “Kamu tu ya, beli barang mahal begitu kok kayak beli krupuk….” Baju-bajuku selalu keren, modis, up to date, flamboyanlah. Wangi? Tentu saja, aku nggak mau parfum abal-abal, apalagi yang refill sok impor itu. Bvlgari, Hugo, Luciano Soprani, dan lain-lain, aku punya banyak koleksinya. Arloji? Hmmm, Anda mau merek apa dan harga berapa, aku punya. Kuliner? Coba deh tanya aku, resto, kafe, atau lounge mana sih di seputar Jogja ini yang nggak pernah kusinggahi? Beberapa bahkan sampai kenal banget dengan plat mobilku, seleraku, pesanan khasku, yang sekali duduk bisa buat makan sebuah keluarga sebulan!
Ah, akulah sang kaya raya itu, sang sukses itu, sang hebat itu, yang semuanya kucapai dalam usia yang masih belia.
Begitu banyak sahabatku, dari yang memang sangat dekat, hingga yang sekadar say hello, hai-hei-hai-hei, dan dari yang sudah lama, hingga yang baru lihat lubang hidungnya sekali dua kali saja. Semua tampak begitu nyaman denganku, bangga terhadapku, dan membutuhkanku. Semua begitu menyanjungku, selalu memberikan kursi terlebih dahulu buatku, selalu mendengarkan bacotanku, sekalipun aku sering kali menuturkan sesuatu yang amat sangat biasa, tidak bermakna, bahkan nggak penting banget untuk dibahas.
Dan, mereka selalu tersenyum buatku!
Mereka selalu welcome dan ada waktu untukku!
Mereka selalu bersedia menjadi pijakan kakiku!
Sungguh, betapa nyamannya jadi aku, diidolakan di mana-mana, dihargai di mana-mana, dan didengarkan di mana-mana. Aku dianggep banget oleh siapa pun!
Bahkan, ada yang dengan verbal menyatakan berkali-kali, bukan sekali saja, bahwa ia selalu siap untuk memenuhi kebutuhanku, apa pun, kapan pun, 24 jam full service! Ada juga yang berbisik, “Aku siap untuk kamu jadikan yang kedua, ketiga, keempat, atau kelima…” (wah, padahal dalam paham agamaku, nggak ada itu yang kelima, maksimal yang keempat kalau memang loe mau! ^_^). Ada juga yang gahar berkirim pesan inbox di FB-ku, “Kalau buatmu sih, aku suka-suka aja kamu perlakukan bagaimana pun, sampai kapan pun deh selama kamu masih suka sama aku. Kamu mau sambil jalan dengan orang lain juga boleh, aku nggak masalah….”

Hayaaah… hayaaah…gubraaakkk…!!!
So sweet! Co ewettt-ewettt…!!!
Gitu deh kenyamanan hidupku.
Begitu agungnya aku di mata semua orang, didamba sepenuh jiwa, hingga orang-orang kehilangan rasionalitasnya untuk dijadikan “kebutuhanku”. Aku mau curhat, selalu ada telinga yang siap mendengar, wajah yang bertopengkan empati, dan mulut yang siap mengelus keluh kesah jiwaku. Begitu aku dihajar gelombang libido, sangat banyak wanita yang siap dilumat-lumat sesuka hatiku, diremukredamkan, dipatah-patahin, bahkan hingga aku meregang puas!

Owww…owww…, enaknya jadi aku.
Tapi, benarkah ini semua karena aku? Pure? Murni? Jangan-jangan, aduuuh, ya, jangan-jangan ini kamuflase, tidak murni lagi, seperti tidak lagi murninya susu murni yang memasang spanduk tulisan susu murni sekalipun?
Sebagai manusia, aku pun sering berada dalam kesendirian. Di mana pun! Tengah malam! Dini hari!
Sebagai manusia, aku sering didera perasaan dan renungan tajam mengharu biru, menyayat-nyayat jiwaku, sisi angle-ku, dimensi keilahianku, dimensi kemalaikatanku.
Benarkah aku bahagia?
Sungguhkah aku nyaman dengan semua ini?
Sejatikah keberadaan mereka yang selalu siap kusakiti, kutemui saat kubutuhkan, dan kucampakkan saat kubosan?
Tuluskah mereka melakukan semua itu untukku, demi diriku saja, semurni-murninya tanpa embel-embel apa pun?

Ya Tuhanku….
Harus kuakui dari lubuk hatiku bahwa aku sungguh amat beruntung telah Engkau karuniai kelimpahan materi yang amat sangat luar biasa ini, yang dengannya aku bisa memiliki apa saja, dan bahkan “membeli” semua orang. Ya, kelimpahan materi! Kekayaan! Flamboyanku!
“Itu…!” kata Mario Teguh.

Andai saja Tuhan berkehendak mengambil semua yang kini ada padaku, dan itu sungguh sangat mudah bagi-Nya, semudah Dia membakar hangus sebuah pabrik raksasa dan menyebabkan empunya yang kemarin masih taipan seketika menjadi pecundang penuh utang, apakah aku masih akan dipuja, dielukan, didengarkan, dan dianggep oleh mereka?
Yah, andai aku tak memiliki rumah-rumah mewah ini, mobil-mobil premium ini, “tabungan overlimit” ini, parfum mahal mewangi ini, arloji mewah setara gaji guru setahun penuh ini, dan seabrek benda-benda ini, masihkah kalian ada untukku?

Andai aku jalan kaki di bawah terik matahari, bermandi keringat, menahan lapar, bertubuh dekil nan buluk nan bau tengik, dengan dompet kempes yang tak mampu untuk sekadar beli sebuah Aqua gelas, akankah kau, kau, kau, yang kini selalu tersenyum manis dan mendengarkanku, tetap mau menyapaku, tersenyum kepadaku, menyentuh lenganku, merangkulku, memelukku, menciumku, dan menganggapku manusia?

Sungguh, aku telah melihat betapa kawan-kawan lama yang dulu jaya dan mapan, begitu dielu-elukan sebagai sang hebat, juara, orang super, seketika terasing dalam kesepian (estranged) saat semua gula yang ada padanya hilang.
Sungguh, aku telah menjadi saksi hidup sebuah unen-unen almarhum kakekku yang mengatakan, “Pohon, kalau masih rindang daunnya, semua orang ingin berteduh di bawahnya. Namun jika sudah meranggas, rontok daunnya, jangankan berteduh, bahkan semua ingin menebangnya, setidaknya untuk dijadikan kayu bakar….”

OMG…!!!

Lihatlah ke sekitarmu, sungguh amat banyak orang mapan yang ditinggalkan sahabat-sahabatnya yang dibanggakannya selama ini saat kemapanan itu hengkang diambil Si Empunya. Lalu, yang ada hanyalah kesendirian, kesunyian, deraan cemooh, bahkan fitnah. Mereka yang dulunya selalu ada buatku, mendengarkanku, mencintaiku, seketika malu untuk bertemu denganku, mendengarkan keluh kesahku, apalagi menjulurkan tangan untuk memelukku agar aku bisa merasa berharga bahwa aku tetaplah manusia!
Bahkan, sebagian besar mereka, dari balik punggung mereka, menebarkan gosip dan fitnah bercabang-cabang, layaknya pohon Zaqqum yang dijanjikan Tuhan kepada para penghuni neraka, bahwa aku sungguh bodoh, konyol, tolol, gila, nggak punya otak, menjijikkan, menyebalkan, nggak punya malu, nggak layak dianggap manusia lagi! Mereka makin ekstase menari-nari di atas kejatuhanku, kepapaanku, keterpurukanku.

“Kakek, inikah makna rahasia dari unen-unen-mu dulu bahwa mereka bahkan ingin menebang pohon yang sudah meranggas itu?”
Bahkan, kala aku berkeluh kesah kepada orang yang dulu selalu ada untukku tentang segala keterpurukanku itu, dengan nada bicara yang kupaksa-paksakan untuk tetap optimis menyongsong matahari esok, bahwa aku akan bisa bangkit lagi, jaya lagi, kaya lagi, dengan ungkapan “Estranged” GnR, “When I find all of the reason, maybe I’ll find another way, find another day…”, dia hanya acuh dan sibuk memainkan HP-nya, lalu semenit kemudian pamit meninggalkanku sendiri dengan berjuta dalih. Aku memang tak akan bisa menahan kepergiannya lagi, sekadar lima atau sepuluh menit lagi, sebab kini aku sudah tidak memiliki magnet yang mampu membuatnya tetap bertahan di sisiku, lengket denganku, selalu berkorban untukku.
Aku sering terdera oleh renungan macam itu, Bro/Sist….
Masihkah engkau ada untukku di saat aku lemah dan terpuruk?
Masihkah engkau mau menyapaku, tersenyum manis untukku, mendengarkan ocehanku, bersedia kupeluk, di kala aku tak lagi memiliki uang-uang yang bisa membeli segala apa itu, termasuk kehormatan dan harga diri itu?

Lamat-lamat, suara lemah Axl Rose melantunkan syair pembuka Estranged merasuki hatiku, “When you’re talkin to your self and nobody’s home….”
Ah, benarlah kata Nidji, “Mana janji manismu, mencintaiku sampai mati…?”
Cinta sampai mati, hari gini? Hmmm… yang ada adalah uang sampai mati! Kalaupun ada cinta sampai mati, sungguh ia ada di sisiku, di dalam rumahku, yaitu orang-orang yang tahu benar siapa aku, bagaimana aku meraih semua kemapanan ini, berdarah-darahku, bertangis-tangisku, berkeluh kesahku, yang selalu benar-benar secara tulus dan sejati ada untukku, mengalah atas egoku, mengelus dada atas tingkah laku burukku, dan selalu memaafkan semua salahku, bahkan sebelum aku meminta maaf dan menyadari kesalahanku.

Itu saja cinta sejatiku, cinta sejatimu, cinta sejati kalian semua!
Di luar itu, hmmm…, jika aku hanya sosok yang berjalan kaki, “Siapa loe? Ngaku kenal gue? SKSD ah loe! Pergi deh loe, bikin rusak suasana aja sih…!!!”
Pren, inilah dunia kita hari ini….
Sahabat super, pegang kata kunci itu, lalu perhatikan apa yang terjadi! “Itu…” (sambil menudingkan jari telunjukku bukan ke audiens, karena aku bukan motivator hebat, tapi hanya ke monitor komputerku ini, MTGW mode on). 

Tuesday, November 26, 2013

Inilah Bahaya menggunakan Auto Like Facebook

Inilah Bahaya menggunakan Auto Like Facebook

Apakah itu access token
Access Token
merupakan struktur data yang berisi informasi keamanan yang dibutuhkan oleh sebuah proses untuk mengakses objek (dalam hal ini akun Facebook) atau proses lainnya yang membutuhkan otorisasi.

Dari mana Access Token tercipta ?
Seperti yang kita ketahui bersama, Facebook memiliki ribuan bahkan mungkin jutaan apps (aplikasi) untuk memanjakan penggunanya. Dari setiap penggunaan apps tersebutlah Access Token tercipta. Setiap Access Token akan tersimpan pada server hostingan pembuat aplikasi Facebook.
Kenapa dikatakan Access Token berbahaya ?
Apabila Access Token akun Facebook anda diketahui oleh orang yang tidak bertanggung jawab maka orang tersebut dapat meng-update-kan status Facebook anda, mem-posting link dan dapat pula memasukkan foto/gambar tanpa perlu melakukan login ke akun Facebook anda. Mungkin diantara kita pernah mendengar beberapa kasus pengguna Facebook berurusan dengan pihak Kepolisian bahkan sampai ke depan meja hijau akibat dari status Facebook-nya.
Bagaimana proses kerjanya ?
Di sini saya akan mempraktekkan proses kerjanya, bukan mengajarkan. Dan di akhir penjelasan nanti akan dijelaskan bagaimana cara untuk menghindarinya. Baiklah, mari kita mulai.
  1. Pertama – tama saya akan login ke akun Facebook saya sendiri. Antara akun Facebook saya dengan Facebook korban tidak saling berteman. (jika berteman lebih baik lagi)
  2. Sebelumnya, saya telah membuat sebuah aplikasi sederhana di Facebook. Dengan memanfaatkan tekhnik social engineering saya memberikan link aplikasi Facebook itu kepada korban agar tergiur untuk menggunakannya. Link aplikasinya adalah http://apps.facebook.com/via_apa_saja/ (Aplikasi Update Status Facebook Via Apa Saja)
  3. Sang korban tergiur dan menggunakan aplikasi Facebook dari saya.  

4 .Untuk lebih memastikan apakah korban sudah menggunakan aplikasi Facebook dari saya, langsung saja saya login ke cpanel lalu menuju ke phpMyAdmin.


  1. Dan ternyata si korban telah menggunakan aplikasi Facebook dari saya. Yang ditandai kotak warna merah adalah access_token Facebook korban.
  2. Mari kita coba untuk meng-update-kan status Facebook korban dengan sedikit “injeksi url”
    Injeksi url :
    https://graph.facebook.com/ID-FACEBOOK/feed?method=POST&message=KALIMAT&access_token=ACCESS-TOKEN-KORBAN

    Menjadi :
    https://graph.facebook.com/100003787395136/feed?method=POST&message=Test update status online :lol:&access_token=AAAFc7v
    0ZAmt0BABm1LZCTcYcwGdwhyXhR5xVv1Srfio5lVzykK8AKy40KkZA47M47c
    NL98P9IPQgqaJHd7WP2ryOU9Xf3GTyxgixpQVPgZDZD


    Untuk melihat hasilnya silakan Anda klik "injeksi url" di atas lalu buka wall profil Facebook korban
  3. Selanjutnya kita coba untuk mem-posting LINK ke akun Facebook korban.
    Injeksi url :
    https://graph.facebook.com/ID/feed?method=POST&link=URL&message=KALIMAT&access_token=ACCESS-TOKEN-KORBAN

    Menjadi :
  4. Terakhir, saya akan memasukkan sebuah gambar ke dalam akun Facebook korban.
    Injeksi url :
    https://graph.facebook.com/photos?url=URL GAMBAR&method=POST&message=KALIMAT&access_token=ACCESS-TOKEN-KORBAN

    Menjadi :
    https://graph.facebook.com/photos?url=http://www.cyber4rt.com/idsecconf2012/logo.png&method=POST&message=TEST UPLOAD GAMBAR&access_token=AAAFc7v0ZAmt0BABm1LZCTcYcwGdwhyXhR5xVv1Sr
    fio5lVzykK8AKy40KkZA47M47cNL98P9IPQgqaJHd7WP2ryOU9Xf3GTyxgixp
    QVPgZDZD

Bagaimana cara menghindari penggunaan Access Token oleh orang yang tidak bertanggung jawab ?
Cara untuk menghindarinya cukup mudah yaitu :

  1. Masuk ke Pengaturan Privasi Aplikasi Facebook
  2. Cari aplikasi Facebook yang mencurigakan, contoh pada demo kali ini aplikasinya bernama ACCESS_TOKEN, klik edit (sunting) pada aplikasi tersebut.
  3. Di sini ada beberapa pilihan, perhatikan gambar di bawah ini
ket :
merah : menghapus aplikasi dari akun Facebook Anda (direkomendasikan)
biru : menghapus akses aplikasi yang tidak Anda inginkan (pilihan)
hijau : mengatur siapa saja yang dapat melihat posting-an dari aplikasi, pilih "Only Me" (pilihan)
Saya sarankan untuk Anda yang telah memakai Auto Like dari program apapun. Segeralah ganti password Anda, dan ganti juga email utama yang anda buat untuk login ke facebook tersebut. Karena, hanya mengganti password saja tidak cukup, mereka telah memiliki id kode akses akun Facebook Anda.

Akhir kata, jangan sembarang menggunakan aplikasi Facebook. Gunakan aplikasi Facebook hanya dari
sumber yang terpercaya. Sekian dan terima kasih, lebih dan kurangnya mohon dimaafkan


Saturday, November 9, 2013

Kisah Pemikul Tandu Jendral Sudirman

Kisah Pemikul Tandu Jendral Sudirman


Agan mungkin masih inget foto yang ada di buku sejarah. Kalau melihat gambar hitam putih ada orang ditandu, kita langsung berpikir. Jederal Sudirman. Kini tandu tersebut diabadikan di museumMuseum Satria Mandala


Lalu bagaimana dengan nasib para pemikul tandunya? Berikut tulisan tentang nasib mereka.

Perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia memang takkan pernah dilupakan rakyat. Akan tetapi, tak banyak sosok pejuang yang bisa diingat rakyat. Djuwari (82 tahun), barangkali satu dari sekian banyak pejuang yang terlupakan. Kakek yang pernah memanggul tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman itu, kini masih berkubang dalam kemiskinan.
Tepat pada peringatan proklamasi 17 Agustus, Malang Post berusaha menelusuri jejak pemanggul tandu sang Panglima Besar. Djuwari berdomisili di Dusun Goliman Desa Parang Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri, kaki Gunung Wilis. Kampungnya merupakan titik start rute gerilya Panglima Besar Sudirman Kediri-Nganjuk sepanjang sekitar 35 km.
Dari Malang, dusun Goliman bisa ditempuh dalam waktu sekitar empat jam perjalanan darat. Kabupaten Kediri lebih dekat di tempuh lewat Kota Batu, melewati Kota Pare Kediri hingga menyusur Tugu Simpang Gumul ikon Kabupaten Kediri. Terus melaju ke jurusan barat, jalur ke Dusun Goliman tak terlalu sulit ditemukan.
Sejam melewati jalur mendaki di pegunungan Wilis, Malang Post pun tiba di pedusunan yang tengah diterpa kemarau. Rute Gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman memang sangat jauh dari keramaian kota. Titik start gerilya berada di kampung yang dikepung bukit-bukit tinggi dan tebing andesit.
“Inggih leres, kulo Djuwari, ingkang nate manggul Jenderal Soedirman, sampeyan saking pundi?”(iya benar, saya Djuwari, yang manggul Jenderal Soedirman, anda dari mana?) kata seorang kakek yang tengah duduk sambil memegang tongkat di sudut rumah warga Dusun Goliman.
Melihat sosok Djuwari tak nampak kegagahan pemuda berumur 21 tahun yang 61 tahun lalu memanggul Panglima Besar. Namun dipandang lebih dekat, baru tampak sisa-sisa kepahlawanan pemuda Djuwari. Sorot mata kakek 13 cucu itu masih menyala, menunjukkan semangat perjuangan periode awal kemerdekaan.
Sang pemanggul tandu Panglima Besar itu mengenakan baju putih teramat lusuh yang tidak dikancingkan. Sehingga angin pegunungan serta mata manusia bebas memandang perut keriputnya yang memang kurus. Sedangkan celana pendek yang dipakai juga tak kalah lusuh dibanding baju atasan.
Rumah-rumah di Dusun Goliman termasuk area kediaman Djuwari tak begitu jauh dari kehidupan miskin. Beberapa rumah masih berdinding anyaman bambu, jika ada yang bertembok pastilah belum dipermak semen. Sama halnya dengan kediaman Djuwari yang amat sederhana dan belum dilengkapi lantai.
“Sing penting wes tau manggul Jenderal, Pak Dirman. Aku manggul teko Goliman menyang Bajulan, iku mlebu Nganjuk,”(yang penting sudah pernah manggul jenderal, pak Dirman, saya manggul dari goliman sampai bajulan, itu masuk nganjuk) ujar suami almarhum Saminah itu ketika ditanya balas jasa perjuangannya.
Dia bercerita, memanggul tandu Pak Dirman (panggilannya kepada sang Jenderal) adalah kebanggaan luar biasa. Kakek yang memiliki tiga cicit itu mengaku memanggul tandu jenderal merupakan pengabdian. Semua itu dilakukan dengan rasa ikhlas tanpa berharap imbalan apapun.
Sepanjang hidupnya menjadi eks pemanggul tandu Soedirman, keluarga Djuwari beberapa kali didatangi cucu Panglima Besar. Pernah suatu kali diberi uang Rp 500 ribu, setelah itu belum ada yang datang membantu. Pemerintahan yang cukup baik kepadanya adalah pada zaman Soeharto, sesekali dia digelontor bantuan beras.
“Biyen manggule tandu yo gantian le, kiro-kiro onok wong pitu, sing melu manggul teko Goliman yaiku Warso Dauri (kakak kandungnya), Martoredjo (kakak kandung lain ibu) karo Djoyo dari (warga Goliman),”(dulu manggulnya ya gantian, kira2 ada 7 orang, yang ikut manggul dari goliman itu Warso dauri, martoredjo, sama Djoyo) akunya.
Perjalanan mengantar gerilya Jenderal Soedirman seingatnya dimulai pukul 8 pagi, dengan dikawal banyak pria berseragam. Rute yang ditempuh teramat berat karena melewati medan berbukit-bukit dan hutan yang amat lebat. Seringkali perjalanan berhenti untuk beristirahat sekaligus memakan perbekalan yang dibawa.

(ILLUSTRASI)
“Teko Bajulan (Nganjuk), aku karo sing podho mikul terus mbalik nang Goliman. Wektu iku diparingi sewek (jarit) karo sarung,” (sampai bajulan (Nganjuk), aku sama yg ikut mikul pulang ke Goliman, pas itu di kasih kain sama sarung) imbuhnya.
Ayah dari empat putra dan empat putri itu menambahkan, waktu itu, istrinya (sudah dipanggil Tuhan setahun lalu) amat senang menerima sewek pemberian sang Jenderal. Saking seringnya dipakai, sewek itupun akhirnya rusak, sehingga kini Djuwari hanya tinggal mewariskan cerita kisahnya mengikuti gerilya.
“Pak Dirman pesen, urip kuwi kudu seng rukun, karo tonggo teparo, sak desa kudu rukun kabeh,” (Pak Dirman pesen, hidup itu yang rukun, sama tetangga harus berbagi, se desa harus rukun semua) katanya.
.
Dari empat warga Dusun Goliman yang pernah memanggul tandu Panglima Besar, hanya Djuwari seorang yang masih hidup. Putra Kastawi dan Kainem itu masih memiliki kisah dan semangat masa-masa perang kemerdekaan. Ketika ditanya soal periode kepemimpinan Presiden Soekarno hingga SBY, Djuwari dengan tegas mengatakan tidak ada bedanya.

Di Bayar Lunas Dengan Segelas Susu



Ini adalah salah satu kisah inspirasi kesukaan saya. Menurut saya sangat banyak pelajaran yang didapat dari cerita ini. Suatu hal yang luar biasa untuk dapat membaginya kepada pembaca . Berikut kisahnya.


Di Bayar Lunas Dengan Segelas susu.

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar.

Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Walaupun rumah yang dia kunjungi merupakan rumah sederhana dan boleh dibilang miskin.

Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.

Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.

Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, "berapa saya harus membayar untuk segelas susu ini ?"

Wanita itu menjawab: "Kamu tidak perlu membayar apapun". "Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan" kata wanita itu menambahkan.

Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata :" Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda."

Belasan tahun kemudian, wanita muda yang telah berusia lanjut tersebut mengalami sakit yang sangat komplek dan kritis. Para dokter di kotanya itu sudah tidak sanggup menanganinya.

Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.

Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly.

Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumahsakit, menuju kamar si wanita tersebut.

Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan.. . Wanita itu sembuh !!. Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan.

Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.

Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya.

Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatuannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi..

"Telah dibayar lunas dengan segelas susu.." tertanda, DR Howard Kelly.

BOLEHKAH AKU MEMBELI WAKTU PAPA 1JAM SAJA

"BOLEHKAH AKU MEMBELI WAKTU PAPA 1 JAM SAJA"

"BOLEHKAH AKU MEMBELI WAKTU PAPA 1 JAM SAJA"

Kisah Sedih Mengharukan, Siapkan Tissu Sebelum Membaca

Pada suatu hari, seorang Ayah pulang dari bekerja pukul 21.00 malam.

Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu sangat melelahkan baginya.
Sesampainya dirumah ia mendapati anaknya yang berusia 8 tahun
yang duduk di kelas 2 SD sudah menunggunya di depan pintu rumah.

Sepertinya ia sudah menunggu lama.”Kok belum tidur?” sapa sang
Ayah pada anaknya.

Biasanya si anak sudah lelap ketika ia pulang kerja, dan barubangun ketika ia akan bersiap berangkat ke kantor di
pagi hari.”Aku menunggu Papa pulang , karena aku mau tanya berapa sih gaji Papa?

”Lho,tumben, kok nanya gaji Papa segala? Kamu mau
minta uang lagi ya ?

”Ah, nggak pa, aku sekedar.. pengentahu aja…

”Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.400.000. setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja.

Jadi gaji Papa satu bulan berapa, hayo?!”Si anak kemudian berlari mengambil kertas dari meja belajar sementara Ayahnya melepas sepatu dan mengambil minuman.

Ketika sang Ayah ke kamar untuk berganti pakaian, sang anak
mengikutinya.”jadi kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000
utuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000 dong!””Kamu pinter, sekarang tidur ya..sudah malam!”

Tapi sang anak tidak mau beranjak.”Papa,aku boleh pinjam uang
Rp 10.000 nggak?

”Sudah malam nak, buat apa minta uang malam-malam begini. Sudah, besok pagi saja. Sekarang kamu tidur…””Tapi papa…
”Sudah, sekarang tidur…” suarasang Ayah mulai meninggi.

Anak kecil itu berbalik menuju kamarnya.

Sang Ayah tampak menyesali ucapannya. Tak lama kemudian ia
menghampiri anaknya di kamar. Anak itu sedang-terisak-isak sambil memegang uang Rp 30.000. Sambil mengelus kepala sang anak, Papanya berkata”Maafin Papa ya! kenapa kamu minta uang malam-malam begini.. besok kan masih bisa.

Jangankan Rp.10.000, lebih dari itu juga boleh. Kamu mau pakai buat beli mainan khan?….”

”Papa,aku ngga minta uang. Aku pinjam…
nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajanku.

””Iya..iya..tapi buat apa??” Tanya sang Papa.”

Aku menunggu Papa pulang hari ini dari jam 8. aku mau ajak Papa main ular tangga. Satu jam saja pa, aku mohon. Mama sering bilang, kalau waktu Papa itu sangat berharga. Jadi aku mau beli waktu Papa. Aku buka tabunganku, tapi cuma ada uang
Rp30.000. tapi Papa bilang, untuk satu jam Papa dibayar Rp 40.000.. karena uang tabunganku hanya Rp.30.000,- dan itu tidak cukup, aku mau pinjam Rp 10.000 dari Papa…”Sang Papa cuma terdiam.

Ia kehilangan kata-kata. Ia pun memeluk erat anak kecil itu sambil
menangis Mendengar perkataan anaknya, sang Papa langsung
terdiam, ia seketika terenyuh, kehilangan kata-kata dan menangis.. ia lalu segera merangkul sang anak yang disayanginya itu sambil menangis dan minta maaf pada sang anak..

”Maafkan Papa sayang…” ujar sang Papa.”Papa telah khilaf, selama ini Papa lupa untuk apa Papa bekerja keras… maafkan Papa anakku…” kata sang Papa ditengah suara tangisnya.

Si anak hanya diam membisu dalam dekapan sang Papa…

BANGSA KASIHAN

Di adaptasi oleh M.Hatta Taliwang dari puisi Kahlil Gibran dengan judul yang sama

"BANGSA KASIHAN"

Kasihan bangsa yang memakai mobil yang tidak diproduksinya, memakan nasi dari beras yang tidak dipanennya dan meminum Aqua yang bukan milik negaranya
Kasihan bangsa yang menjadikan pembohong sebagai pahlawan, penipu sebagai pemenang dan menganggap para kapitalis rampok sebagai majikannya....
Kasihan bangsa yang bungkam menyaksikan penindasan,diam menatap kebohongan,membisu tatkala diperkosa.
Kasihan bangsa yang tidak tegas bertindak kecuali api datang menyulut pintu kamarnya
Kasihan bangsa yang tidak memberontak kecuali lehernya sudah dikalungi celurit....
Kasihan bangsa yang kalau tak mampu memakan nasi,mencari umbi di hutan atau mengumpulkan sisa sisa makanan dari pembuangan sampah di kota
Kasihan bangsa yang pemimpinnya menggelar karpet merah untuk predator bagi rakyatnya.
Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan trompet kehormatan namun kemudian melepas kepergiannya dengan cacian,.....lalu bersiap siap menyambut penguasa baru dengan trompet kehormatan lagi....
Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu menghitung amal amal yang akan dibawa ke akhirat,tetapi didunia menyembah penguasa yang dholim terhadap umatnya....
Kasihan bangsa yang anak mudanya,pandai bersolek,berpesta diatas geladak kapal yang akan karam.
Kasihan....Kasihan....

Friday, November 8, 2013

Renungan Tentang Orang Tua

Renungan Tentang Orang Tua

Anakku, Ketika aku tua, aku berharap kau mengerti dan sabar padaku. Ketika aku memecahkan piring atau menjatuhkan sop dari meja karena penglihatanku berkurang. Aku berharap kamu tidak berteriak memarahiku, Orang yang sudah tua sangat sensitif. Milikilah belas kasih ketika kamu harus berteriak marah.

Ketika lisanku berkurang dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan, Aku berharap kamu tidak berteriak padaku, “Ulangi apa yang kamu katakan atau tuliskan!” Aku minta “maaf” anakku. Aku “menua”.

Ketika lututku melemah, aku berharap kamu sabar membantuku berdiri. Seperti dulu aku melakukannya padamu, ketika kamu kecil, Ketika kamu belajar bagaimana berjalan. Mohon tahan terhadapku.

Ketika aku tetap mengulangi perkataanku mengenai ingatan-ingatanku yang salah. Aku berharap kamu tetap mendengarkanku. Aku mohon jangan menertawaiku atau tidak suka mendengarkanku.

Kamu ingat ketika kamu kecil dan ingin balon? Kamu begitu bertingkah berlebihan, melakukan apapun dan menangis, sampai kamu mendapatkan apa yang kamu mau.

Aku mohon, maafkan bauku juga. Bauku seperti orang yang tua. Aku mohon, jangan memaksaku dengan keras untuk mandi. Tubuhku lemah. Orang yang tua mudah sakit ketika mereka kedinginan. Aku berharap aku tidak mempermalukanmu. Ingatkah kamu ketika kamu kecil? Aku mengejar dan menangkapmu karena kau tidak mau mandi.

Aku berharap engkau bisa sabar denganku. Ketika aku mulai mudah ngambek dan mengomel. Itu semua bagian dari “tua”. Kamu akan mengerti ketika kamu semakin tua.

Dan jika kamu memiliki sisa waktu, aku berharap kita bisa berbincang-bincang walau hanya sebentar. Aku selalu sendiri setiap waktu dan tidak memiliki satupun teman untuk berbincang-bincang. Aku tahu kamu sibuk bekerja. Sekalipun kamu tidak tertarik pada ceritaku, mohon luangkanlah waktu untukku.

Ingatkah kamu ketika masih kecil? Aku meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritamu tentang mainan dan boneka-bonekamu? Ketika waktu itu datang, aku sakit dan terbaring di tempat tidur. Aku berharap kamu sabar merawatku.

Aku minta maaf, jika tiba-tiba buang air di tempat tidur atau menyusahkanmu. Aku berharap kamu sabar merawatku sampai akhir hidupku.

Aku akan pergi dalam waktu yang tidak lama lagi. Ketika waktu kematianku datang, Aku berharap kamu bisa memegang tanganku dan memberiku kekuatan untuk menghadapi “mati”.

Dan jangan cemas, Ketika nanti aku bertemu Tuhan, aku akan berbisik pada-Nya. Untuk memberkatimu dan merahmatimu, Karena kamu mencintai ibu dan ayahmu Terima kasih banyak telah mencintai ibu dan ayahmu. Terima kasih banyak telah merawat kami, Kami mencintaimu dengan banyak cinta….

-Ibu dan Ayah-


JALAN KEHIDUPAN

JALAN KEHIDUPAN

Sejenak lelah untuk menjalaninya
Sebuah kehidupan memiliki rintangan
Terkadang mematahkan arah untuk berjalan
Dan terkadang pula tersesat

Ntah kemana jalan kehidupan ini
Kaki melangkah jauh berjalan
Tak jua menemukan tempat untuk berpijak
Hati untuk bersandar melepas penak

Adakah jalan kehidupan untuk ketentraman
Bathin gelisah setiap waktu menjalaninya
Kemanakah akhirnya persinggahan yg menenangkan
Untuk setiap hari yg di lalui

Hilir berganti problema kehidupan menerjang
Semoga hati sekuat batu karang di lautan
Tak menangis dan terus berjalan
Jalan kehidupan yg masih panjang

Twitter Facebook Favorites More